cerita sedikit mengenai desa pintu….Konon ceritanya PINTU berasal dari sebuah cerita tentang keinginan seorang jejaka berasal dari daerah Ngadirejo yang ingin menikahi seorang putri cantik dari Desa Sedah. Karena bapak putri tersebut tidak merestui memberikan TUJUH syarat ( dalam bahasa jawa PITU ), dari aksara tersebut jadilah Desa Pintu….Menurut Purwowijoyo dalam bukunya Babad Kandha Wahana 17 Desa Kecamatan Jenangan, bahwa Desa Pintu merupakan perubahan pengucapan dari kata “pitu” yang artinya tujuh, menjadi “pintu”
Cerita ini berasal dari keinginan Setrowijoyo untuk menikahi seorang putrid bernama Sri Tanjungyg cantik jelita. Nama bapak gadis ini adalah Bathara Warno adalah oran yg bijaksana. Sedang Setrowijoyo adl orang yg sangat pemarah, kejam dank eras. Ketika anak gadisnya dilamar oleh Setrowijoyo, Bhatara Warno tidak suka dengan wataknya dan tidak ingin anaknya anak gadisnya dinikahi olennya, tetapi tidak berani menolak lamaran tersebut karena merasa kalah kesaktian. Maka untuk memperhalus penolakan tersebut Bhatara Warno memberikan syarat pitu yg dirasa hal itu memberatkan bagi Setrowijoyo, yaitu :
1 minta dibuatkan taman suruh
2 dan 3 taman suruh tersebut diapit oleh dua buah gunung
4 dan 5 minta dibuatkan lumpang sak alune
6 minta payung temanten
7 minta paku untuk memaku gunung
Apabila ketujuh syarat terpenuhi dalam waktu semalam, maka Setrowijoyo boleh menikahi Sri Tanjung. Karena begitu tergila-gila pada Sri Tanjung syarat yang begitu berat disanggupi.
Setrowijoyo adalah orang linuwih sakti mandraguna, maka setrowijoyo memanggil bangsa jin dimintai bantuan untuk menyelesaikan ketujuh syarat tersebut. Dan benar saja [ada keesokan harinya ketujuh syarat tersebut telah ter penuhi dan selesai.
Begitu nafsunya ingin memiliki Sri Tanjung, keesokan paginya Setrowijoyo memberi kabar pada Bhatara Warno bahwa ketujuh syarat tersebut telah selesai. Kemudian datanglah Bhatara Warno diiringi dengan keluarga dan tetangganya dan meneliti datu persatu ketujuh syarat tersebut. Tapi Bhatara Warno mengatakan bahwa ini hanyalah permainan anak kecil saja, karena terbuat dari batu saja. Merasa dipermalukan, maka Setrowijoyo marah dan menanyakan sekali lagi Boleh tidaknya anaknya di nikahi. Bhatara warno menjawab “tanyakan sendiri pada sri tanjung”. Kemudian ditanyalah Sri Tanjung tetapi tidak ada jawaban. Maka Setrowijoyo berujar, “ditanya kok diam seperti batu” Maka tidak lama kemudian berubahlah Sri Tanjung menjadi batu dan dibuang ke wilayah Gunung Gawe. Alu, payung, dan lainnya dibuang semua. Payung dan paku dibuang digunung kemudian dikenal dengan gunung sepaku. Sedangkan Bhatara Warno sendiri ngrigi sukmo hilang dan tidak bisa kembali kemudian mati dan disusul oleh Setrowijoyo. Dan roh nya menempati batu lumpang yang dikenal dengan watugodhek.